Cara Melatih Anak Selesaikan Masalah Tanpa Kekerasan

Baru-baru ini, terjadi peristiwa pengeroyokan terhadap siswi SMP di Pontianak bernama Audrey. Gadis 14 tahun ini dikeroyok siswi dari beberapa SMA. Diketahui, pengeroyokan ini ditengarai masalah asmara, Bun.

Ketua KPPAD Kalbar Eka Nurhayati Ishak menyatakan Audrey memiliki sepupu berinisial P. Mantan pacar P kemudian pacaran dengan D, tapi masih sering berhubungan dengan P sehingga D emosional. Masalah ini berlanjut ke media sosial.

“Korban A ini sering nimbrung dan komentar di medsos. Ini ternyata memancing emosi pelaku,” ujar Eka.

Miris ya, Bun, mendengarnya. Anak yang masih di bawah umur menyelesaikan masalahnya dengan tindak kekerasan. Menanggapi hal ini, psikolog anak dari Tiga Generasi Anastasia Satriyo yang karib disapa Anas mengatakan problem solving yang diambil pelaku kurang tepat.

Dalam hal ini, memang sejatinya anak sudah dilatih kemampuannya dalam menyelesaikan masalah dan mengelola emosi dalam menghadapi sesuatu. Di sekolah, pencegahan melakukan tindak kekerasan termasuk dalam menyelesaikan masalah bisa saja diajarkan. Namun, ketika di lingkungan keluarga dan pertemanan kekerasan sering dilakukan, bukan tak mungkin anak akan menganggap itu adalah hal yang biasa.

Termasuk ketika menyelesaikan masalah dengan kekerasan, hal itu bisa dianggap biasa oleh anak. Tapi, menurut Anas masalahnya ketika kita mentoleransi kekerasan yang dilakukan anak, makin lama akan makin parah, Bun.

“Awalnya marah-marah, terus bisa aja ngelabrak, barangnya si korban diambil dan lama-lama bisa sampai melakukan kekerasan fisik,” ujar Anas saat berbincang dengan HaiBunda.

Nah, agar anak tak menggunakan tindak kekerasan dalam menyelesaikan masalah, kata Anas orang tua perlu mengajari anak menyadari dan mengenali berbagai macam emosi. Kemudian, ajari anak cara tepat menyalurkan emosi.

“Marah boleh tapi tangan dan kaki enggak bertindak. Sedih boleh, tapi menyalurkannya dengan menulis, jangan mengurung diri di kamar. Lalu, ortu perlu jadi teman anak bercerita. Kalau anak lagi bercerita tentang emosinya, di sini kita perlu paham emosi karena kalau enggak paham emosi kita bakal respons ‘udah-udah jangan sedih, jangan marah,’” papar Anas yang juga praktik di Klinik Petak Pintar Mampang ini.

Lantas, gimana respons yang tepat? Cobalah dengarkan apa perasaan anak dan terima perasaannya. Lalu tanyakan apa penyebab dia sampai memiliki perasaan seperti itu. Setelah anak bercerita, ajak dia berdiskusi apa jalan keluar yang tepat menurutnya. Dengan begini, orang tua bisa jadi tempat yang aman bagi anak bercerita, Bun.

“Kita juga akan bantu mereka menyelesaikan masalah. Apalagi untuk anak di bawah 17 tahun memang dari sisi perkembangan otaknya mereka masih belum bisa berpikir cukup matang untuk memilih hal yang tepat karena masih impulsif,” pungkas Anas.

Ayo Sebarkan Konten Bermanfaat Ini!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pilihan Editor