Tips Menghadapi Istri yang Memiliki Gairah Seks Tinggi

Bagi Anda para pria, tahukah anda bahwa terdapat beberapa hal yang membuat wanita menjadi hiperseks? Wow… kira-kira apa saja ya hal tersebut.. hmm simak artikel berikut :

  1. Permintaan istri yang menggebu, bisa karena dia tidak mencapai orgasme atau misorgasm.
    Ternyata keadaan ini justru sering dialami istri dan malahan menempati urutan pertama dari keluhan istri, sehingga 60-90 persen dari pasutri. Wajar jika istri selalu menuntut “jatahnya” yang jarang dilunasi oleh sang suami, sehingga sang suami kedodoran untuk memenuhinya.

Terkadang dialami oleh beberapa istri yang dituduh oleh suaminya mengalami hiperseks, sehingga dianjurkan untuk berkonsultasi kepada ahlinya, bukan suami yang berusaha untuk mengevaluasi diri. Padahal mungkin saja sang suami menderita ejakulasi dini atau kurang ahli dalam hal rangsangan.

Ketidakcakapan perilaku seksual menyebabkan suami dengan sengaja mempercepat hubungan intim. Akibatnya terjadi missorgasm atau nyeri bagi wanita saat melakukan hubungan intim, katena Miss V belum dalam keadaan siap dieksplorasi oleh Mr P.

  1. Sebuah laporan menyebutkan bahwa puncak frekuensi hubungan intim pasutri tertinggi pada suami ialah sekitar umur 30-35 tahun, dan pada istri sekitar 40 tahun. Tetapi, kenyataan di masyarakat tidak demikian. Kerap kali gairah seksual lenyap sebelum waktunya akibat kekecewaan yang dialami. Namun, kemungkinan kecil lain menyatakan wanita mempunyai gairah yang berlebihan. Hal ini disebabkan beberapa faktor, yaitu kepekaan terhadap hormon atau stimulan lainnya, atau adanya kelainan di otak yang merupakan organ seks terbesar.

Sebatas apakah wanita bisa menjadi hiper atau normal ?

  1. Adanya kelompok wanita yang selalu mampu menikmati hubungan intim, dan senantiasa mencapai orgasme bahkan hingga beberapa kali atau multiple orgasm. Bisa juga dikarenakan suami yang dapat mengimbagi dengan memperpanjang permainan sebelum orgasme, tapi masih dapat mengendalikan diri.

Menurut para ahli, pemeriksaan diri secara teratur ke dokter atau psikiater merupakan jalan terbaik memecahkan permasalahan ini. Setelah dilakukan analisa dan wawancara maka tahap awal dapat diketahui gejala kejiwaan atau fisik. Apabila sang istri mengalami hiperseks, tindakan yang harus diambil salah satunya melalui pengobatan intensif oleh ahli jiwa atau psikiatris, karena salah satu gangguan seks yang dialami oleh wanita lebih bersifat kejiwaan.

Langkah selanjutnya dilakukan tes laboratorium. Dari hasil tes tersebut makan penanganan selanjutnya oleh psikiater melalui penambahan beberapa obat untuk meredakan hiperseksual pasangan. Janganlah membeli obat di luar resep dokter.

Obat yang biasa dijual di pasaran seperti viagra belum tentu adalah obat kuat yang dianjurkan oleh psikiater karena banyak obat serupa mengandung khasiat yang dipertanyakan. Sebagai informasi, 90 persen dari obat-obatan semacam viagra dan sejenisnya belum terbukti berkhasiat secara media bagi aktivitas seksual Anda. Pengobatan intensif selain dengan obat-obatan dapat dilakukan dengen psikoterapi. Penanganan dimulai dari ejukasi maupun rejukasi yang dilihat dari hasil wawancara yang sebelumnya telah dilakukan. Dari hasil tes itulah baru akan terlihat kondisi yang sebenarnya dan bagaimana cara untuk mengatasinya.

Sebelum lanjut, mari kita bahas dulu akibat kalo istri hiperseks dan suami tidak bisa mengimbangi. Artikel dibawah ini diambil dari situs JPNN.


ciri istri hiperseks

Menderita Punya Istri Hiperseks, Setiap 30 Menit Minta Lagi

TAK sanggup lagi memuaskan hasrat istrinya, Donwori, 36, memilih untuk menceraikan, istrinya, Sephia, 45. Selain karena sering loyo hingga akhirnya minum obat penguat, Donwori mengaku mulai kesal karena Sephia suka mengancam bakal akan berselingkuh.

Usai menservis istrinya bukan ketenangan yang didapat. Sebaliknya, justru rasa takut dan berimbas pada pertengkaran.

Hampir tiga tahun menikah, hati Donwori selalu miris dan kesal lantaran istrinya selalu mengancam akan selingkuh.

“Istri saya itu tidak pernah puas. 30 menit minta lagi, 30 menit minta lagi. Begitu selanjutnya sampai pagi,” kata Donwori di sela-sela talak cerainya di Pengadilan Agama (PA), klas 1A Surabaya, Rabu Rabu (29/6).

Donwori memaklumi kalau istrinya tergolong wanita hiperseks. Hal itu diketahui dari penyebab perceraian kelima suami sebelumnya.

Faktor penyebabnya hampir sama, Sephia hiperseks dan selingkuh. Donwori sebagai suami keenamnya sebelumnya juga selingkuhan Sephia. Setelah bercerai dengan suami sebelumnya, baru Donwori menikahinya.

Waktu itu, Donwori masih berusia 20 tahunan sehingga kondisi fisiknya masih tahes alias sehat. Donwori juga tidak bekerja sehingga bisa sewaktu-waktu memuaskan hasrat Sephia.

Sebagai suami baru, maka mau tidak mau Donwori harus bekerja sebagai sales. Sementara Sephia yang memang punya kos-kosan banyak tidak begitu menekan Donwori.

“Kalau masalah uang tidak ada masalah, ya masalahnya di atas ranjang,” kata Donwori yang bertahun-tahun ikut di rumah Sephia di kawasan Tembok, Blauran, Surabaya.

Kondisi fisik Donwori makin lama makin menurun karena dampak obat penguat berpengaruh pada jantungnya. Sephia makin sering protes dan minta berpisah.

“Saya sekarang ngekos, sebagai pria saya merasa tidak dihargai dan dihormati karena istri sering ancam selingkuh. Mungkin dia sudah selingkuh,” pungkas dia. 


Berita diatas mungkin terdengar cukup menakutkan bagi para pria. Sebabnya tak sedikit pria yang memiliki ejakulasi dini dan kesulitan memuaskan istri. Padahal kunci kebahagiaan rumah tangga salah satunya adalah dengan hangatnya hubungan diatas ranjang.

Sudah jamak diketahui kalau tak ada seorang pun pria yang sanggup memuaskan nafsu wanita. Sebabnya wanita mampu ‘muncrat’ berkali-kali dalam semalam, namun pria maksimal hanya 2-3 kali lalu lemas tak berdaya.


tanda wanita hiperseks

ML Tiap Hari Belum Tentu Hiperseks

“Aduh, Dok, rasanya saya enggak sanggup lagi melayani kebutuhan seks suami. Hampir tiap hari dia mengajak berintim-intim. Sudah gitu, dalam sehari bisa lebih dari satu kali. Jangan-jangan suami saya hiperseks, ya, Dok?” keluh seorang istri di kamar praktek dokter.

Padahal, ujar Dr Gerard Paat, MPH, setinggi apa pun frekuensi berintim-intim tak selalu bisa dikategorikan hiperseks. Contoh jelas bisa dilihat pada pasangan pengantin baru atau mereka yang terpisah cukup jauh dengan tenggang waktu lama.

“Biasanya, aktivitas hubungan seks mereka, kan, jadi tinggi. Namun tingginya frekuensi ini lebih diwarnai oleh tingginya dorongan atau kebutuhan seksual semata-mata, bukan oleh sebab-sebab tertentu yang menjadi ciri utama perilaku hiperseks,” terang konsultan seksologi di Biro Konsultasi Kesejahteraan Keluarga RS St. Carolus, Jakarta ini.

Buat pasangan yang baru menikah, lanjutnya, aktivitas berintim-intim jadi sangat menarik dan menyenangkan karena merupakan sesuatu yang baru.

“Sama saja seperti nyopir. Begitu bisa, seseorang yang tengah belajar nyopir, kan, pasti pingin terus nyopir.”

Tak ubahnya pula dengan anak kecil yang mendapat mainan baru. Namun lama-kelamaan, daya tarik dan kenikmatan barang baru tersebut akan berkurang seiring waktu berjalan. Begitu pula hubungan seks.

“Awalnya tentu menyenangkan memiliki pasangan dengan dorongan seks tinggi. Tapi lama-kelamaan, kan, pasangannya kewalahan dan merasa amat terganggu karena sangat menyita waktu dan energinya.”

Jadi, tegas ketua Dewan Pendidikan Yayasan Pondok Indah Don Bosco ini, bila kedua belah pihak merasakan dorongan/kebutuhan seksual yang sama-sama hiper, sebetulnya frekuensi yang tinggi tak perlu dipermasalahkan.

Baru dianggap jadi masalah bila salah satu menderita dibuatnya, lantaran dorongan seksual yang berlebihan tadi membuat pasangannya selalu minta dilayani atau malah mencemari hubungan suami-istri secara umum, semisal jadi ribut terus.

Bukankah berintim-intim harusnya diinginkan kedua belah pihak dan bisa saling memuaskan?

Ciri dan penyebab Memang, diakui Gerard, dari frekuensi hubungan seks bisa dilihat apakah seseorang hiperseks atau tidak, yakni bila frekuensinya melebihi ukuran normal. Meskipun begitu, tolok ukur normal dan abnormal juga berbeda pada tiap orang.

Bagi pasangan A, misal, yang dikatakan normal mungkin cukup berintim-intim 1-2 kali seminggu. Tak demikian dengan pasangan B, boleh jadi 3-4 kali seminggu baru dikatakan normal.

Nah, dari ukuran normal ini, bila terjadi peningkatan drastis, semisal jadi 3-4 kali sehari atau rata-rata 20 kali per minggu, barulah bisa dicurigai salah seorang di antara mereka menderita kelainan/gangguan seksual yang dinamakan hiperseks. Penderitanya bisa pria, bisa juga wanita.

Selain frekuensi hubungan seks yang sangat tinggi, harus pula diperhatikan ada-tidak ciri promiscuity (kecenderungan berganti-ganti pasangan) sebelum mencurigai pasangan menderita hiperseks. Tentunya, bila benar ia menderita hiperseks, harus minta bantuan ahli.

Soalnya, kualitas berintim-intim pada suami-istri yang salah satunya menderita hiperseks, tak sebagus dengan yang dilakukan atas dasar sukarela atau suka sama suka.

“Motivasinya, kan, bukan untuk saling melayani berdasarkan cinta kasih dan saling memuaskan, melainkan karena kekhawatiran-kekhawatiran tertentu semisal khawatir pasangan berpaling bahkan berselingkuh dengan orang lain. Sedangkan tujuan si hiperseks sendiri juga hanya untuk memenuhi dorongan seksualnya yang bersifat sesaat,” tutur Gerard.

Maka, harus dicari tahu apakah hubungan tersebut dilandasi perasaan cinta. Wanita butuh suasana emosional yang kondusif untuk bisa berintim-intim. Sementara hubungan seksual yang sehat hanya bisa terwujud bila kedua belah pihak menjadikan seks itu sendiri sebagai bagian dari ikatan cinta mereka berdua.

Menurut Gerard, kalau memang kita tengah dalam kondisi tak siap untuk memenuhi kebutuhan seks pasangan yang hiperseks, semisal lagi capek, ya, tak perlu dipenuhi atau dituruti.

“Bukankah hubungan seks harus bersifat sukarela dan tanpa paksaan? Jadi, istri ataupun suami tak wajib melakukan hubungan seks kalau memang tak menginginkannya. Bila sampai terjadi pemaksaan berarti ada perkosaan di antara suami-istri,” katanya.

Perlunya bantuan ahli juga didasarkan pertimbangan penderita hiperseks tak disarankan mengobati diri sendiri. Apalagi penyebabnya amat beragam, hingga dibutuhkan pengobatan yang simultan atau bersamaan sekaligus antara pengobatan medis atau fisik, dan psikoterapi atau terapi kejiwaan.

“Penderita hiperseks bisa diberikan obat-obatan untuk mengurangi nafsu atau dorongan seksnya, di samping obat penenang,” bilang Gerard.

Sementara psikoterapi dibutuhkan karena hiperseks biasanya menimbulkan konflik dengan pasangan gara-gara pasangannya tak mau diajak berhubungan seks sementara dorongannya sudah begitu menggebu.

Disarankan pengobatan dilakukan bukan hanya oleh si penderita, tapi juga pasangannya mengingat dampaknya dirasakan oleh kedua belah pihak. Pengertian dari pasangan jelas sangat dibutuhkan, semisal dengan berinisiatif mengajak berobat.

“Penderita hiperseks pasti mau menerima tawaran tersebut karena dia sendiri juga menyadari perilakunya tak bisa dibenarkan. Dia enggak merasa bangga, kok, dengan kondisi hiperseksnya, apalagi kalau harus clash kiri dan kanan,” paparnya.

Menurut Gerard, si penderita sendiri justru merasa sedih dan tersiksa karena dia berusaha keras menahan dorongan seksual yang berlebihan, tapi tak kuasa bila keluhannya sudah tergolong parah. “Jadi, pasangan yang hiperseks sebetulnya bukan orang egois seperti yang kerap ‘dituduhkan’ banyak orang,” tegasnya.


ciri ciri wanita orgasme

Ciri-Ciri Wanita Hiperseks

Meskipun kelainan seks merupakan hal baru dalam dunia medis, adasejumlah gejala dan ciri-ciri yang dapat menandakan hiperseksual. Pada pria dan wanita, ada ciri yang berbeda karena pola perilaku seksual yang berbedapula.

Ciri-ciri wanita hiperseks secara umum adalah sebagai berikut:

  • Masturbasi berlebihan
  • Mendambakan hubungan seksual hingga mengganggu kehidupansehari-hari
  • Menghabiskan waktu untuk merencanakan kegiatan seks
  • Sering mengonsumsi konten-konten pornografi
  • Punya banyak pasangan berhubungan seks
  • Tidak terikat secara emosional dengan pasangan berhubungan
  • Menginginkan pasangan berhubungan yang mustahil
  • Ketidakmampuan untuk berhenti dari aktivitas seksual

Penyebab Wanita Hiperseksual

Hiperseks yang dialami oleh kaum wanita seringkali disebabkan olehpenyimpangan selama masa pertumbuhan dari usia balita sampai remaja.

Kekerasan dalam rumah tangga yang sering dialami oleh ibu, seringkali sangayah berbuat kasar terhadapa ibu merupakan kejadian yang dapat dijadikan sebagai contoh penyebab hiperseks atau kelainan seksual pada wanita.

Berbekal dari pengalaman buruk tersebut yang menjadikan pemicu penyebab hiperseks atau kelainan seksual pada wanita. Ketika ia tumbuh dewasa, iaberusaha mencari pendamping yang lebih baik dari ayahnya.

Namun, dalam pencariannya ia tidak berhasil menemukan sosok pria yang diinginkannya,sehingga pada akhirnya ia masuk dalam pergaulan banyak orang untukmencari dan terus mencari sosok pria yang diinginkannya.

Kondisi seperti ini mengakibatkan gejala ataupun dampak buruk bagi wanitayang menderita hiperseks atau kelainan seksual. Jika wanita sudah masukdalam pergaulan banyak orang dan mengenal hubungan seks sertakebiasaan bergonta-ganti pasangan, hal ini akan mengakibatkan kecanduanseks sama halnya dengan merokok


Tips Menghadapi Istri yang Memiliki Gairah Seks Tinggi

Gairah seks tentu tidak hanya dimiliki oleh kaum pria, tapi juga wanita. Umumnya pria yang menginginkan lebih sering seks dibanding wanita. Tapi, apa yang akan terjadi jika sebaliknya? Apa yang akan Anda lakukan untuk menghadapi istri yang memiliki gairah seks tinggi? Simak ulasannya.

Apa yang terjadi ketika istri memiliki gairah seks tinggi?

Menurut Vanessa Thompson, Seksolog dari Newscastle, secara biologis, prialah yang biasanya memiliki libido yang lebih tinggi, sedangkan wanita hanya memiliki sepersepuluh dari testosteron pria. Wanita biasanya akan merasa malu dengan dorongan seksualnya yang tinggi. Seringnya menuntut seks membuatnya ketakutan jika harus memulai bercinta.

Wanita akan takut disebut menuntut seks terlalu banyak. Wanita jadi sangat paranoid bila hendak minta hubungan seks. Namun, menurut Thompson, jika wanita lebih menuntut seks, pria juga bisa merasakan malu seperti wanita. Pria jadi cenderung merasa sangat bersalah, merasa dirinya tidak ‘jantan’, karena laki-laki yang seharusnya menginginkan seks sepanjang waktu. Semakin Anda merasa kurang jantan, semakin Anda kurang menginginkan seks.

Reaksi inilah yang benar-benar bisa merusak hubungan. Pria bisa merasa tidak aman dan terancam oleh dorongan seks pasangannya dan hasilnya jadi agresif. Alhasil, setiap usaha wanita untuk memulai seks bisa berakhir dengan pertengkaran.

Lantas, apa yang akan terjadi dalam sebuah hubungan jika pria tidak menginginkan seks sesering istri?

Pria dengan libido rendah bisa jadi merasa, satu-satunya cara untuk mengendalikan situasi adalah dengan menolak seks. Sementara itu, Peneliti Gender di Amerika, Profesor Hugo Schwyzer meyakini, kondisi sosial dari hasrat seksual bisa memperumit masalah karena wanita bisa merasa hasratnya tidak terpenuhi dan malu.

Bagi seorang wanita yang memiliki gairah seks tinggi dibandingkan pasangan prianya, ini sering kali menyulitkan karena cara itu dianggap bertentangan dengan budaya di negara ini.

Thompson dan Schwyzer meyakini pentingnya bagi pasangan untuk mempelajari perbedaan antara penolakan dan dorongan seks yang rendah sebelum merusak hubungan. Komunikasi dan negosiasi dalam hal ini penting karena bisa menghentikan pertengkaran.

Ini mungkin memicu pertengkaran ketika wanita ingin lebih. Ia takut ditolak, inilah yang menghancurkan keintiman.

Bagaimana menghadapi istri yang memiliki gairah seks tinggi?

Yang paling memungkinkan adalah menyatakan bahwa Anda merasa senang bahwa pasangan memiliki ketertarikan kepada Anda, dan Anda juga tertarik kepada dirinya. Jelaskan bahwa dorongan seks Anda tidak sebesar dorongan istri kepada Anda, sehingga Anda tidak selalu bisa memenuhi kebutuhan pasangan. Pastikan Anda juga siap mengakui hal ini kepada pasangan. Bagaimanapun pada kenyataannya memang kebutuhan pasangan ternyata lebih besar daripada Anda.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah mendorong pasangan untuk melakukan hal-hal yang dapat menghabiskan energinya seperti berenang, berlari, atau hal lainya sebagai cara untuk menyalurkan energi kebutuhannya akan seks. Hal lain yang bisa dilakukan adalah menemukan hobi yang istri sukai.

Perkuat kedekatan emosional Anda dengan pasangan. Beberapa orang yang memiliki dorongan seks secara berlebihan menggunakan seks sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada pasangan secara emosional. Jika ini yang diinginkan oleh pasangan, maka cari hal lain yang bisa dilakukan oleh Anda berdua yang dapat mendekatkan, selain seks. Cara sederhana ini bisa Anda gunakan untuk menghadapi istri yang memiliki gairah seks tinggi.


tanda wanita orgasme

Saat Tingkat Libido Suami Istri Berbeda Jauh, Harus Bagaimana?

Gimana rasanya memiliki pasangan yang libidonya tinggi? Kalau terus mengiyakan takutnya jadi lelah dan membuat aktivitas seks nggak fun lagi. Kalau sering ditolak,  nanti pasangan ‘jajan’ di luar. Semacam dilema ya… 

Jadi ceritanya, jauh sebelum saya punya anak dan ketika saya masih bekerja di majalah pria dewasa, ada seorang teman yang curhat kalau suaminya selalu minta ‘jatah’ setiap hari. Bahkan, dalam sehari bisa dua kali. Saya yang dengar ceritanya aja capek, gimana yang ngejalanin?

Karena menurut saya, urusan hubungan intim itu nggak sekadar bak bek bak bek terus puas dan lemas ya, tapi perlu energi, termasuk butuh membangun mood.

Iya, saya paham kalau dalam sebuah pernikahan, hubungan intim suami istri punya peran yang sangat besar. Bukan sekadar memuaskan hasrat saja, tapi juga sebagai salah satu cara membangun keintiman. Tapi kalau kalau salah satu pasangan memiliki hasrat seksual yang jauh lebih tinggi sehingga salah satu pihak tidak bisa mengimbangi, kan repot juga.

Dalam buku Intimacy & Desire, sang penulis Dr. David Schnarc menuliskan kalau setiap pasangan memang memiliki potensi mengalami apa yang disebut hasrat rendah pada pasangan (Low Desire Partner/LDP) dan juga hasrat tinggi pada pasangan (High Desire Partner/HDP). Kadar hasrat seksual atau libido pada seseorang ini sendiri sebenarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari kadar hormon hingga faktor rasa lelah hingga stress.

Ketika kadar hasrat seksual suami istri terasa cukup jauh, tentu saja bisa menimbulkan berbagai masalah. Seperti yang diungkapkan Nadya  Pramesrani, selaku psikolog klinis dan penggiat kesejahteraan keluarga, “Jangankan yang berbeda tingkat libido, pasangan suami istri yang punya kadar hasrat seksual yang sama, tetapi tidak bisa terpenuhi satu sama lain saja juga banyak risikonya, kok.”

Nadya mengaku, selama ini memang belum pernah menghadapi kasus pasangan suami istri yang memiliki hasrat seksual atau libido yang tidak tidak seimbang. “Ya, memang selama ini kan memang belum pernah ada tes yang mengukur apakah pasangan tersebut termasuk hypersex atau tidak. Tapi memang issuemasalah seks ini sering kali muncul dan menimbulkan masalah dalam sebuah pernikahan,” ujarnya.

Biasanya, keluhan yang diutarakan suami berkaitan dengan rasa lelah. Di mana para suami merasa bahwa istrinya tidak memahami saat mereka menginginkan untuk melakukan hubungan intim, kondisi suami sedang lelah. “Atau banyak juga suami yang justru mengeluh kalau mereka jadi tidak mood karena melihat  istrinya ngomel-ngomel terus.”

Sementara keluhan istri tentu saja berbeda. “Kalau para istri biasanya, sering mengeluh dan merasa kalau suaminya kurang paham, menganggap istri punya tombol on off yang bisa dinyalakan atau dimatikan kapan saja. Lebih-lebih jika memag suami tidak melakukan foreplay lebih dahulu.”

Perlu dipahami bahwa foreplay yang dimaksud bukan sekadar ‘pemanasan’ sesaat sebelum melakukan hubungan intim. Foreplay ini perlu dibangun dalam kurun waktu yang cukup panjang. “Misalnya, istri itu kan juga perlu pemanasan lebih, misalnya ngobrol yang ringan-ringan lebih dulu,” ungkap Nadya.

Lebih lanjut, Nadya mengingatkan bahwa masalah pernikahan, dalam hal ini berkaitan dengan hubungan seksual, perlu keterbukaan satu sama lain. “Sebenarnya untuk masalah frekuensi melakukan hubungan seksual  tidak pernah ada patokan, baiknya berapa kali sehari. Tapi memang ada penelitian yang mengatakan hubungan seksual suami istri setidaknya bisa dilakukan satu minggu dua kali. Jika ada pasangan yang ingin melakukannya lebih dari itu, sebenarnya akan kembali lagi pada  kesepakatan pasangan tersebut”.

Yang perlu digaris bawahi hubungan seksual suami istri ini tentu saja perlu dilakukan atas dasar keinginan dua belah pihak. Artinya dilakukan tanpa paksaan. Jangan sampai merasa terbebani dan menimbulkan pemikiran bahwa hubungan seksual  hanya sekadar melayani pasangan. Bukankah unsur fun juga dibutuhkan ketika melakukan hubungan seksual?

“Memang ada istri yang tidak bisa menolak, karena memang value yang didapatkannya itu adalah istri harus bisa melayani suami kapan pun juga. Kalau memang tidak keberatan, ya, tentu saja tidak jadi masalah. Akan jadi masalah jika memang sudah timbul rasa paksaan dan membebani.”

Intinya, suami istri memang wajib membicarakan kebutuhan masing-masing kemudain bisa disepakati bersama. Faktanya, tidak semua pasangan suami istri bisa terbuka satu sama lain. Nadya memandang hal ini dikarenakan kita tumbuh di lingkungan yang sering kali menganggap bahwa membicarakan masalah seks adalah tabu.

“Untuk bilang alat kelamin saja seperti penis dan vagina masih diangap tabu, padahal ini kan organ tubuh. Sama seperti jantung atau paru-paru. Kenapa jadi tabu?. Hal inilah yang akhirnya menimbulkan rasa enggan untuk membicarakan masalah hubungan seksual dari hati ke hati. Padahal keterbukaan antara suami istri ini sangat diperlukan,” tegasnya.

Cofounder dari Rumah Dandelion ini juga mengingatkan, sebagai orangtua kita pun wajib memberikan seks edukasi pada anak. Nah, kalau sama pasangan saja sudah sulit mengungkapkan apa yang dirasa, dan apa yang diinginkan, bagaimana kita mampu menjelaskan pendidikan seks pada anak?


wanita libido tinggi

Ssst… Begini Cara Kendalikan Libido yang Tinggi

Sesuatu yang berlebihan memang tak baik, termasuk dalam hal libido atau nafsu seksual. Ya, bila libido yang kita miliki terlalu tinggi, tentu sulit fokus dengan kegiatan Anda, hingga pada akhirnya mengganggu Anda dalam menyelesaikan semua pekerjaan.

Lebih dalam, dampak dari nafsu seks yang berlebih ini bisa membuat seseorang tak merasa puas dan membuka peluang perselingkuhan. Tentu, siapapun tak ingin hal itu terjadi, kan?

Sayangnya, faktanya di antara kita – para wanita –  memang ada yang memiliki libido yang relatif tinggi. Hanya saja tak diungkapkan, karena ini topik yang tabu. Lantas, bagaimana cara mengatasi nafsu seks berlebih itu? Berikut kami sudah merangkum cara efektif yang bisa Anda coba. Ini ulasan lengkapnya.

Langkah 1: Jauhi rangsangan seksual

Seorang berlibido tinggi itu pada dasarnya mudah terangsang hal kecil. Oleh karenanya, cara pertama untuk meredam libidonya ialah hindari segala yang membuat libido gampang meningkat. Setiap orang sendiri berbeda-beda, dan itu harus dijawab dengan diri mereka sendiri: apa yang membuat Anda jadi mudah terangsang? Apakah film porno, adegan ciuman di film layar lebar atau mungkin artis cowok ganteng yang Anda idolakan. Jika sudah ketemu, cobalah jauhi itu, Moms.

Langkah 2: Meditasi

Bermeditasi atau menenangkan pikiran, bisa juga jadi pilihan untuk menekan nafsu seksual Anda. Untuk mendapatkan hasil lebih baik, Anda bisa menambahkan ayat-ayat kitab – yang membuat Anda gampang tenang – ataupun melakukan latihan yoga. Jika Anda bisa fokus dan rutin bermeditasi, libido menurun sekaligus menaikkan rasa percaya diri.

Langkah 3: Sering berolahraga

Sebenarnya, orang yang mudah terangsang ialah orang yang punya banyak energi dalam tubuhnya. Untuk itu, salah satu siasat untuk mengatasi kondisi tersebut mengalihkannya ke hal positif. Salah satunya ialah berolahraga dengan rutin.

Apa olahraga yang Anda sukai, Moms? Jalan cepat, voli, lari, yoga? Apapun itu, lakukan dengan rutin ya, Moms. Tak perlu lama-lama juga. Karena tujuan berolahraga kita hanya mengalihkan pikiran, yang kalau terlalu lama justru meningkatkan libido. Karena, olahraga dengan durasi cukup bakal mengalirkan banyak darah ke alat genital.

Langkah 4Say no to masturbasi!

Kegiatan ini bisa membuat Anda ketagihan, dan kondisi itu justru membuat Anda makin sulit menekan libido yang tinggi. Lebih baik, cobalah aktivitas hobi yang Anda suka, sebutlah ikut komunitas hobi atau relawan kegiatan sosial.

Langkah 5: Konsultasi ke dokter

Ya, jika memang kondisi sudah menggangu aktivitas harian atau produktivitas Anda, hal ini memang perlu dilakukan. Fungsinya agar jelas penyebabnya apa, dan solusinya bagaimana. Apakah sekedar kecanduan seks, atau sinyal ke gangguan mental seperti gangguan bipolar atau kanker adrenal. Dalam mengobatinya, biasanya dokter akan meresepi Anda obat untuk menekan libido.

Tapi, kami harap bila Anda punya keluhan libido tinggi, keluhan Anda sudah bisa diatasi dengan beberapa cara alami di atas ya Moms. Hingga tak perlu ke dokter – yang mungkin menguras dompet Anda.

Ayo Sebarkan Konten Bermanfaat Ini!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pilihan Editor